Thursday, 12 March 2015

pengertian emosi

     Pengertian Emosi
Kataemosi berasal dari bahasa latin yaitu movere yang artinya bergerak/menggerakkan dan menjauh. Emosi adalah salah satu potensi yang ada dalam diri individu. Emosi merupakan bahan mentah yang harus diolah menjadi kekuatan untuk memahami setiap pergolakan-pergolakan hasil respon dari pengalaman-pengalaman yang kita dapat, baik itu dari lingkungan maupun gejolak dalam diri kita sendiri, sehingga kita menjadi pemenang dalam penguasaan diri untuk bertindak tetap pada sasaran. Emosi dan perasaan biasanya akan bergejolak dikarenakan dua hal yaitu kegemberiaan yang memuncak dan musibah yang berat.
Goleman (2003 : 512) menyatakan bahwa “Emosi adalah suatu perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, sesuatu keadaan biologis dan fisiologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak”. Sementara itu Chaplin (dalam Ali dan Asrori, 2004) mendefinisikan “Emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari egoisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam dari perubahan perilaku.”
Dalam pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwasanya di setiap diri individu mempunyai kekuatan untuk merespon segala gejolak-gejolak (rangsangan) yang kita dapat, rangsangan ini pada tingkatan atau kadar tertentu dapat mengubah keadaan keseimbangan diri dan respon rangsangan yang paling tinggi adalah timbulnya tindakan baik fisik maupun non-fisik. Setiap individu mempunyai kebutuhan merasakan kebebasan dan jika kebebasan-kebebasan  tesebut dikekang atau dengan keadaan lain keberadaannya terancam (egoisme), maka timbul lah berontak dari dalam diri individu yang dampak dari berontak ini dapat kita perhatikan pada mimic wajah yang berubah, kondisi diri yang tidak terkendali, dan sebagainya.
Emosi pada awalnya adalah suatu keadaan yang stabil dan normal. Emosi merupakan bahan mentah yang harus diolah menjadi satu kekuatan, tetapi terkadang emosi juga dapat menjadi potensi yang menjatuhkan diri kita sendiri bila saat seseorang tidak dapat mengendalikannya. Pengelompokan emosi dalam golongan-golongan besar menurut Goleman (2005 : 411) adalah sebagai berikut :
a.         Amarah ; beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal, terganggu, tersinggung dan barang kali yang paling hebat tindakan kekerasan dan kebencian patologis.
b.        Kesedihan ; pedih, sedih, muram, melankolis, kesepian, ditolak dan defresi.
c.         Rasa takut ; cemas, gugup, khawatir, was-was, tidak tenang, ngeri, fobia, dan panik.
d.        Kenikmatan ; bahagia, gembira, puas, senang, terhibur, bangga, terpesona, dan batas ujungnya manis.
e.         Cinta ; penerimaan, persahabatan, kepercayaan, hormat, kasmaran, dan kasih.
f.         Terkejut ; terkesiap, takjub, terpana.
g.        Jengkel ; hina, jijik, benci, tidak suka.
h.        Malu ; rasa salah, kesal hati, hina, aib dan hati hancur lebur.


Semua pengelompokan yang digolongkan oleh Goleman di atas dapat kita kenali atau perhatikan di saat-saat tertentu, pada sikap orang lain dari pancaran raut wajah, baik itu marah, sedih, takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel, ataupun malu.

kecerdasan emosional

    Pentingnya Kecerdasan Emosional
Kecerdasan akademis bukan satu-satunya jalan seseorang untuk dapat menuju keberhasilan. Kemampuan secara akademik, nilai rapor, predikat, kelulusan pendidikan tinggi tidak bisa menjadi tolak ukur seberapa baik prestasi seseorang. Kecerdasan emosi menuntut kepekaan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energy emosi dalam kehidupan sehari-hari.
AL Qorni dalam Tahzan (2005 : 74) mengungkapkan bahwa : Barang yang mampu menguasai perasaannya dalam setiap peristiwa, baik yang memilukan dan juga yang menggembirakan, maka dialah orang yang sejatinya memiliki kekukuhan iman dan keteguhan keyakinan. Karena itu pula, ia akan memperoleh kebahagiaan dan kenikmatan di karenakan keberhasilannya mengalahkan nafsu.

Goleman (2005 : 24) menyatakan bahwa : “Untuk mencapai kesuksesan, IQ bukanlah merupakan hal yang utama. Manusia memiliki banyak kecerdasan lain yang jauh lebih penting, yaitu : 1) kecerdasan phisik, 2) kecerdasan intelektual, 3) kecerdasan sosial, 4) kecerdasan emosional, 5) kecerdasan intelektual”. Stenberg dalam Ginanjar (2006 : 38) menyatakan bahwa : “Bila IQ berkuasa, ini karena kita membiarkan berbuat demikian. Dan bila kita membiarkannya berkuasa, kita telah memilih penguasa yang buruk.”
Dari beberapa hasil penelitian telah banyak terbukti bahwa kecerdasan emisi memiliki peran yang sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan otak barulah merupakan syarat minimal untuk meraih keberhasilan, kecerdasan emosional lah yang sesungguhnya menghantarkan orang menuju puncak prestasi. Terbukti banyak orang yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, tetapi terpuruk ditengah persaingan dikarenakan tidak memiliki kemampuan untuk bertahan menghadapi rintangan dan cobaan yang datang setiap saat.
Kecerdasan intelektual IQ itu perlu tetapi IQ tidak dapat bekerja tanpa diiringi oleh EQ(Emosional Quotion). Hal ini pula yang dikemukakan oleh Goleman (2005 : 44) bahwa : “Yang paling cerdas diantar kita dapat terperosok kedalam nafsu yang tidak terkendali dan dalam influs yang meledak-ledak karena IQ menyumbang kira-kira 20% sebagai faktor penentu kesuksesan hidup dan yang 80% lagi diisi oleh kekuatan-kekuatan lain.”


2.10     Komponen Kecerdasan Emosional
Kecerdasan Intelegen(IQ) dan Kecerdasan Emosional (EQ) bukanlah komponen-komponen yang saling bertentangan melainkan keterampilan yang saling terpisah, namun keduanya juga berintegrasi secara dinamis. Craig.J.A (2005 : 134) mengungkapkan lima wilayah kecerdasan emosional yang dapat menjadi pedoman bagi individu untuk mencapai kesuksesan dalam hidup, yaitu :
1.        Kesadaran Diri
a.    Mengenal dan merasakan emosi sendiri
b.    Memahami penyebab perasaan yang timbul
c.    Mengenal pengaruh perasaan terhadap tindakan.
2.        Mengelola Emosi
a.    Mengelola dengan baik perasaan dan emosi-emosi  yang menekan
b.    Tetap teguh dan tidak goyah bahkan dalam situasi berat
c.    Dapat berpikir jernih dan tetap berfokus walau dalam situasi tertekan.
3.        Memotivasi Diri Sendiri
a.    Optimis
b.    Mempunyai pandangan positif tentang diri, sekolah dan keluarga
c.    Memilki kemampuan untuk mengatasi ketegangan jiwa (stress)
4.        Mengenali Emosi Orang Lain
a.    Mampu menerima sudut pandang orang lain
b.    Memiliki sifat empati terhadap orang lain
c.    Mampu mendengarkan orang lain
5.        Membina Hubungan
a.    Memiliki kemampuan untuk menganalisis hubungan dengan orang lain
b.    Dapat menyelesaikan konflik dengan orang lain
c.    Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan orang lain

     Perkembangan Kecerdasan Emosional
EQ dapat dikendalikan dan dikembangkan. Pengembangan kecerdasan emosional gaya Steiner (dalam Ngermanto, 2007 : 100), ada tiga cara yaitu :
a.    Membuka hati
b.    Menjelajahi daratan emosi
c.    Mengambil tanggung jawab
Pertama kita harus dapat merasakan keadaan perasaan kita dan mengakui saat perasaan itu tidak stabil dengan ditandai adanya perubahan pada diri, seperti selalu sedih, malas melakukan aktivitas dan lain sebagainya.
Setelah membuka hati, kita dapat melihat kenyataan dan menemukan peran emosi dalam kehidupan. Kita dapat berlatih untuk mengetahui perasaan kita, paham hambatan dan aliran emosi kita, mengetahui emosi orang lain dan perasaan yang dipengaruhi tindakan-tindakan kita. Tahapan menjelajahi emosi adalah kenyataan tindakan/perasaan, menanggapi percikan intuisi dan validasi percikan intuisi.

Setiap orang harus mengerti permasalahan, mengakui kesalahan dan keteledoran yang terjadi, membuatkan perbaikan dan memutuskan bagaimana merubah segala sesuatu. Langkah – langkah mengambil tanggung jawab adalah mengakui kesalahan, menerima atau menolak pengakuan, meminta maaf dan menerima atau menolak permintaan maaf. Upaya pengembangan kecerdasan emosional, pada intinya adalah bagaimana memahami dan mengelola emosi diri dan orang lain.

Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

     Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Ibarat peperangan dalam belajar kita juga harus siap. Kita harus tahu hal-hal apa yang membantu suksesnya belajar dan apa yang sering membuat gagalnya pelajaran sebenarnya.  Ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar namun secara garis besar (Slameto, 2005 : 54) membaginya menjadi dua macam yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
1.        Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa, pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemajuan prestasi belajar siswa. Faktor ini meliputi hal-hal yang berhubungan dengan aspek fisiologis (bersifat jasmani) dan aspek psikologis (bersifat rohani). Antara kedua faktor ini saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.
1.    Faktor Fisiologis
Faktor sisiologis seseorang akan mempengaruhi keaktifan siswa tersebut dalam belajar. Fisik yang lagi sakit, dan keadaan panca indera akan mempengaruhi aktivitas siswa tersebut dalam belajar. Perbedaan aktifitas ini akan menimbulkan perbedaan prestasi belajar yang diperoleh oleh siswa tadi.
2.    Faktor Psikologis
Faktor psikologis ini juga berpengaruh terhadap pencapaian prestasi belajar. Bila faktor psikologis ini kurang mendapat perhatian akan menimbulkan kesulitan belajar bagi si siswa. Faktor psikologis ini dapat dibedakan atas beberapa hal yakni sebagai berikut :
a.       Intelegensi
Merupakan bawaan lahir, ini besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar. Ini bisa dikembangkan berkat pembentukan dan bimbingan lingkungan. Tingkat intelegensi yang dimiliki oleh siswa dapat membedakan kemampuan siswa dalam hal-hal yang dipelajari, terutama hal-hal yang dianggap sulit. Jadi, tingkat intelegensi akan menentukan cepat tidaknya atau sanggup tidaknya seorang siswa dalam memahami, menyelesaikan tugas belajarnya. Perbedaan cepat atau lambat dalam menyerap pelajaran akan berpengaruh besar terhadap prestasi belajar siswa tersebut.
b.      Bakat
Bakat merupakan potensi dasar dalam memungkinkan seseorang berkemampuan atau tidak. Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Bakat yang dimiliki seorang anak merupakan modal yang sangat berguna bagi siswa dalam belajar, siswa yang mempelajari hal yang sesuai dengan bakatnya akan lebih mudah menguasai hal yang dipelajarinya tersebut. Keadaan ini tentu berpengaruh terhadap prestasi belajarnya.
c.       Perhatian
Perhatian merupakan masalah penting bagi kehidupan siswa di dalam dan di luar sekolah. Apabila seorang siswa mempunyai perhatian sepenuhnya terhadap suatu bidang studi akan memungkinkan dia dapat mengikuti bidang studi itu dengan baik. Untuk itu, sebaiknya seorang guru yang menyampaikan suatu pelajaran dalam kegiatan-kegiatan mengajar hendaknya dapat menarik perhatiansiswa dalam menerima pelajaran yang diajarkan.
d.      Minat
Minat merupakan kecenderungan hati dan keinginan yang tinggi terhadap  sesuatu. Hamalik (2006 : 33) menambahkan minat tanpa adanya usaha yang baik maka belajar juga sulit untuk berhasil. Minat sangat besar berpengaruh terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya. Hal ini akan menimbulkan ketekunan untuk memusatkan perhatian, pikiran terhadap objek tersebut. Misalnya, seorang siswa yang menaruh minat besar terhadap pelajaran ekonomi, maka dia akan memusatkan perhatiannya lebih banyak dari pada pelajaran yang lainnya. Akan tetapi, jika terdapat siswa yang kurang berminat terhadap membaca dapat diusahakan dengan cara memberikan penjelasan-penjelasan kepadanya untuk menimbulkan kembali minat membacanya dengan cara pemusatan yang intensif terhadap materi pelajaran tersebut. Itulah yang memungkinkan siswa tersebut untuk belajar lebih giat dan akhirnya mencapai prestasi belajar yang diinginkan.
Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk membangkitkan minat belajar siswa antara lain :
1.        Guru selalu memberikan motivasi kepada siswa bahwa dengan membaca akan banyak manfaat yang diperoleh siswa terutama dalam belajar.
2.        Guru dan pihak sekolah berusaha menambah koleksi buku-buku yang lebih menarik dan bermutu di perpustakaan.
3.        Dalam mengajar guru perlu menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan dengan bahan yang lain, dengan demikian siswa akan lebih rajin mencari apa yang siswa butuhkan tersebut.


a.         Motivasi
Motivasi adalah suatu keadaan internal seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu dalam pencapaian tujuannya. Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa keinginan untuk mencapai tujuan tersebut didasarkan kepada motivasi apa yang menyebabkan dia mau dan merelakan diri untuk berbuat sesuatu. Dalam perkembangan selanjutnya, motivasi dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
a.         Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya untuk melakukan tindakan belajar. Misalnya perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut.
b.        Motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Misalnya pujian dan hadiah, peraturan (tata tertib sekolah), orang tua, guru dan sebagainya. Dengan keinginan (motivasi) yang tinggi yang ada pada diri siswa untuk terus belajar tentunya akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
2.        Faktor Ekternal
Faktor eksternal adalah faktor yang mempengaruhi dari luar diri siswa (faktor lingkungan), seperti kualitas pengajaran yang diperoleh dari sekolah khususnya dari guru yang memberikan materi pelajaran.
a.       Lingkungan
Lingkungan terdiri atas lingkungan alam, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat. Lingungan begitu memegang peranan penting dan memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perubahan siswa. Perubahan itu biasanya mengarah kepada yang positif dan juga biasa mengarah kepada hal yang negatif.
b.      Sekolah
Lingkungan sekolah umumnya terkait dengan hubungan antara guru dan murid. Guru sebagai orang yang menguasai bahan pelajaran harus memiliki tingkah laku yang benar-benar pantas untuk dijadikan teladan bagi murid-muridnya.
c.       Peralatan belajar

Peralatan belajar umumnya menyangkut mengenai fasilitas belajar baik yang ada di sekolah maupun yang dimiliki anak murid seperti : perlengkapan belajar, perpustakaan, laboratorium, lapangan dan sebagainya. 
14  Pengaruh Komunikasi Guru Dengan Siswa Dan Kecerdasan Emosi TerhadapPrestasi Belajar Ekonomi
Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah. Hamalik (2006 : 45) menambahkan, guru dipandang sebagai orang yang paling mengetahui, karena guru adalah yang paling pandai yang menyiapkan tugas-tugas, memberikan latihan-latihan, dan penilaian. Jadi, guru memegang peran yang paling utama di kelas. Guru adalah salah satu yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumner daya manusia yang potensial dibidang pembangunan. Oleh karena itu, guru yang merupakan salah satu unsur dibidang pendidikan sebagai tenaga profesional sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang terletak tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada suatu kedewasaan atau taraf kematangan tertentu.
Dalam proses belajar mengajar di sekolah, biasanya guru masih menggunakan model konvensional sebagai saluran dalam penyampaian informasi atau materi pelajaran yang tidak terlepas dari metode ceramah, dimana guru menyampaikan atau menuturkan secara lisan pelajaran kepada siswanya di depan kelas. Alat interaksi yang terutama dalam hal ini adalah “komunikasi”.
Dalam proses belajar mengajar di sekolah dengan menggunakan metode ceramah disamping penguasaan materi, guru juga harus mempunyai keterampilan komunikasi bagaimana menarik perhatian siswa saat belajar agar tidak membosankan. Dalam hal ini, guru berfungsi sebagai komunikator dan siswa sebagai komunikan yang menerima pesan atau isi komunikasi yaitu materi pelajaran secara tatap muka (face to face communication). Achmad (dalam Mustafa, 30 Mei 2009), menambahkan :
Kegiatan pembelajaran adalah salah satu bentuk proses komunikasi sebagai mata rantai hubungan antara sesama manusia, ia meliputi segala apa yang dilakukan misalnya pendidikan dan pembelajaran khusus komunikasi antara guru dan siswa.

Mujiman (2006 : 29) berpendapat bahwa, komunikasi untuk saling membantu. Jadi dalam konteks proses kegiatan pembelajaran, guru sebagai sumber pengetahuan yang akan diberikan kepada siswa melalui metode ceramah harus bisa mengarahkan, mengontrol dan memimpin siswa agar kegiatan belajarnya berhasil dan memperoleh prestasi belajar yang memuaskan.
Pace (dalam Mustafa, 30 Mei 2009) menyatakan :
Tujuan sentral strategi komunikasi tersendiri atas tiga tujuan utama yaitu to secure understanding, memastikan bahwa komunikasi mengerti pesan yang diterimanya ; to establish acceptance, jika komunikan sudah mengerti dan menerimanya, maka penerimanya itu harus dibina dan to motivate action pada akhirnya kegiatan dimotivasikan.

Dalam melaksanakan pengajaran, guru harus dapat membangkitkan  perhatian atau minat belajar siswa terhadap pelajaran, misalnya mengajar dengan cara yang menarik, mengadakan selingan yang sehat ketika pembelajaran mulai membosankan, menjelaskan dari yang mudah ke yang sukar atau dari uang konkret ke yang abstrak, penggunaan alat-alat peraga dan memiliki sikap yang positif terhadap tugas profesinya. Untuk memotivasi siswa sebaiknya guru mengadakan pendekatan intruksional juga mengadakan pendekatan pribadi. Hal ini dilakukan untuk dapat mengetahui dan memecahkan permasalahan atau kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh anak didik, guna meningkatkan prestasi belajar mereka.
Dengan demikian, tugas utama guru dalam mengajar adalah menciptakan suasana belajar yang kondusif. Untuk mencipatakan suasana belajar yang kondusif diperlukan kemampuan komunikasi guru dalam metode ceramah agar penyampaian materi pelajaran dapat ditangkap atau diterima siswa dengan baik. Tanpa komunikasi yang tidak baik dan efektif, prestasi belajar yang dicapai juga tidak memuaskan.

Sama halnya siswa yang memiliki intelegen yang tinggi belum tentu akan memperoleh hasil belajar yang tinggi. Bagaimana siswa dapat mengenali diri dan mengolah emosi diri dan orang lain serta membina hubungan akan mempengaruhi bagaimana proses belajarnya. Siswa juga harus memiliki empati, mengendalikan dan memotivasi diri adalah kemampuan kecerdasan emosional dalam proses belajar untuk memperoleh hasil belajar. Dengan demikian jelas bahwa kecerdasan emosional akan mempengaruhi hasil belajar.
Teknik Evaluasi
Dalam proses belajar yang efektif selalu menghendaki dipergunakan alat-alat untuk menentukan apabila hasil belajar yang diinginkan telah benar-benar tercapai, atau pengajaran yang diberikan mempunyai hasil yang diinginkan telah tercapai atau tidak. Teknik evaluasi dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu :
1.        Teknik tes
Suharsimi Arikunto (2006 : 33) “Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.”
2.        Teknik non tes
Pada dasarnya non tes digunakan menilai aspek tingkah laku, seperti aspek sikap, minat, perhatian, karakteristik, dan lainnya yang bersifat kongkret yang dapat diamati indera-indera.
Umumnya teknik non tes digunakan untuk mengevaluasi peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan kepribadian.
Suharsimi Arikunto (2006 : 26) mengemukakan bahwa jenis-jenis non tes adalah :
a.         Skala bertingkat
b.        Kuesioner (quesionair)
c.         Daftar cocok (check list)
d.        Wawancara (interview)
e.         Pengamatan (observation) danRiwayat hidup

Thursday, 5 March 2015

pengertian hasil belajar

 - Menurut Dimyati dan Mudjiono, hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar.

Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran.

Menurut Oemar Hamalik hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.

Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Perinciannya adalah sebagai berikut:

1. Ranah Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.

2. Ranah Afektif
Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai.

3. Ranah Psikomotor
Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular (menghubungkan, mengamati).

Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah.

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi.
Howard Kingsley membagi 3 macam hasil belajar:

a. Keterampilan dan kebiasaan

b. Pengetahuan dan pengertian

c. Sikap dan cita-cita

Pendapat dari Horward Kingsley ini menunjukkan hasil perubahan dari semua proses belajar. Hasil belajar ini akan melekat terus pada diri siswa karena sudah menjadi bagian dalam kehidupan siswa tersebut.

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disintesiskan bahwa hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang. Serta akan tersimpan dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi sehingga akan merubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik.

Sumber Buku Bacaan :
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), h. 250-251.
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Bumi Aksara, 2006), h. 30.
Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), h. 102-124.
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja Rosdikarya,2005), h. 22

Monday, 2 March 2015

Resource Based Learning (RBL)
Resource Based Learning (RBL) adalah proses pembelajaran yang langsung menghadapkan peserta didik dengan suatu atau sejumlah sumber belajar secara individual atau kelompok dengan segala kegiatan yang bertalian dengan itu, jadi bukan dengan cara yang konvensional di mana guru menyampaikan bahan pelajaran kepada peserta didik.
Dalam model Resource Based Learning (RBL), guru bukan merupakan sumber belajar satu satunya. Peserta didik dapat belajar dalam kelas, dalam laboratorium, dalam ruang perpustakaan, dalam ruang sumber belajar yang khusus atau bahkan di luar sekolah, bila ia mempelajari lingkungan berhubungan dengan tugas atau masalah tertentu.
Belajar berdasarkan sumber atau resource based learning, bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan bertalian dengan sejumlah perubahan perubahan yang mempengaruhi pembinaan kurikulum. Perubahan perubahan itu mengenai:
  1. Perubahan dalam sifat dan pola ilmu pengetahuan manusia.
  2. Perubahan dalam masyarakat dan tafsiran kita tentang tuntutannya.
  3. Perubahan tentang pengertian kita tentang anak dan caranya belajar.
  4. Perubahan dalam media komunikasi.
Ciri-ciri belajar berdasarkan sumber (resource based learning), yaitu:
  1. Memanfaatkan sepenuhnya segala sumber informasi sebagai sumber bagi pelajaran termasuk alat alat audio visual dan memberi kesempatan untuk merencanakan kegiatan belajar dengan mempertimbangkan sumber sumber yang tersedia.
  2. Berusaha memberi pengertian kepada peserta didik tentang luas dan aneka ragamnya sumber sumber informasi yang dapat dimanfaatkan untuk belajar.
  3. Berhasrat untuk mengganti pasivitas peserta didik dalam belajar tradisional dengan belajar aktif didorong oleh minat dan keterlibatan diri dalam pendidikannya.
  4. Berusaha untuk meningkatkan motivasi belajar dengan menyajikan berbagai kemungkinan tentang bahan pelajaran, metode kerja, dan medium komunikasi yang berbeda sekali dengan cara konvensional.
  5. Memberi kesepatan kepada peserta didik untuk bekerja menurut kecepatan dan kesanggupan masing masing.
  6. Lebih flexibel dalam penggunaan waktu dan ruang belajar.
  7. Berusaha mengembangkan kepercayaan akan diri peserta didik dalam hal belajar.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:

Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010).